SULAP (SIMAK, ULAS APRESIASI) : INOVASI MENUMBUHKAN ESTETIKA DAN ETIKA BAHASA DALAM MEDIA SOSIAL

Nama                    : Dina Fitria Hasanah, S. Pd.

Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Tenggarang

Mata Pelajaran    : Bahasa Indonesia

Kelas/ Semester : VIII/ Genap Materi Pokok Teks Ulasan

Pendidikan berperan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan kreatif. Komunikasi, menjadi syarat penting untuk mengakomodir hal-hal baik tersebut terwujud. Terdapat dua pola komunikasi yang terjadi dalam pola masyarakat, pertama secara langsung dan kedua melalui perantara teknologi yang terhubung dalam media sosial. Guru dan peserta didik merupakan pengguna aktif dalam media sosial, sehingga perlu adanya pola pendidikan yang melibatkan dunia komunikasi maya tersebut. Ujaran kebencian, berita bohong, perundungan di media sosial merupakan bukti salah satu krisisnya karakter yang terdapat dalam dunia virtual. Pola komunikasi di dalamnya perlu diperbaiki, menggunakan pembelajaran bahasa yang tepat dan sesuai konteks. Secara positif mendorong uji coba pedagogi baru dan pendekatan berbasis teknologi inovatif untuk mengajar dan belajar, sehingga secara aktif dapat meninggalkan pemikiran tradisional bahwa pendidikan hanya sebagai transfer informasi dari satu database atau otak ke yang lain (Macfadyen & Dawson, 2012; Raschke, 2002).

Maka melalui metode problem based learning dengan latar belakang yang dipaparkan, perlu adanya inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam bermedia sosial yang berkarakter melalui pembelajaran bahasa Indonesia yang menyenangkan. Dibentuklah satu model pembelajaran bernama SULAP, akronim dari Simak, Ulas, dan Apresiasi. Sebuah inovasi dengan fokus pada materi pokok Teks Ulasan, dengan rincian kompetensi dasar sebagai berikut.

3.12 Menelaah struktur dan kebahasaan teks ulasan (film, cerpen, puisi, novel, dan karya seni daerah) yang diperdengarkan dan dibaca.

4.12 Menyajikan tanggapan tentang kualitas karya (film, cerpen, puisi, novel, karya seni daerah, dll.) dalam bentuk teks ulasan secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur, unsur kebahasaan, atau aspek lisan.

SULAP (Simak, Ulas, dan Apresiasi)

SULAP, akronim dari Simak, Ulas, dan Apresiasi, merupakan suatu model pembelajaran dengan pendekatan komunikatif yang diadaptasi dari pembelajaran kooperatif Make a Match. Make a match dikembangkan oleh Lorna Curran (1994), siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai konsep atau topik, dalam suasana menyenangkan. Siswa memasangkan antara konsep dari materi pembelajaran dengan topik dalam kehidupan bermasyarakat, merupakan gagasan yang ditawarkan dalam model pembelajaran SULAP.

Secara terperinci dalam teori terdapat enam struktur pada teks ulasan, yaitu identitas karya, orientasi, sinopsis, analisis, evaluasi dan rekomendasi. Sedangkan secara singkat, keenam hal tersebut dapat dilakukan melalui tiga tahapan saja. Pertama adalah simak, kegiatan berliterasi memahami karya dengan meneliti struktur identitas karya, orientasi, dan sinopsi. Kedua adalah ulas, suatu tindak berpikir kritis dengan analisis dan evaluasi suatu karya. Ketiga adalah apresiasi, yang memicu kolaborasi antar siswa dengan saling merokemendasikan karya yang disukainya setelah tahap perkenalan secara terperinci. Karya yang dimaksud tidak terbatas pada buku fisik sastra atau pertunjukan teatrikal berjam-jam, karya kini tersebar luas dengan kreasi tanpa batas pada media sosial yang dinikmati siswa hampir setiap harinya. Maka untuk memaksimalkan kreativitas siswa dalam bermedia sosial dan menekan laju ujaran kebencian di dalamnya, diperlukan pemaparan materi teks ulasan yang reflektif terhadap dunia bermain siswa dengan cara menarik, melalui permainan kartu yang ciamik.

Langkah-langkah model pembelajaran SULAP antara lain:

  1. Pemaparan materi struktur teks ulasan dan kaidah kebahasaan.
  2. Siswa menonton video pementasan drama berjudul “Mereka yang Menunggu di Banda Naira” di akun youtube Indonesia Kaya.
  3. Guru menyiapkan kartu SULAP, yang berisi ulasan karya konten kreator di media sosial. Ulasan tersebut dapat diperoleh dari potongan video, kolom deskripsi, dan kolom komentar pertunjukan “Mereka yang Menunggu di Banda Naira” di akun youtube Indonesia Kaya.
  4. Siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa tim, setiap tim difasilitasi kartu SULAP.
  5. Setiap tim, berdiskusi untuk menyusun kartu dengan struktur teks ulasan dan komentar yang perlu diperbaiki bahasanya.
  6. Kedua tim berlomba untuk mencocokkan kartu dengan struktur teks dalam kurun waktu tertentu.
  7. Tim yang memperbaiki kaidah kebahasaan sebelum batas waktu diberi point.
  • Siswa yang dapat menyampaikan pesan pendidikan karakter pada setiap struktur teks ulasan mendapatkan poin tambahan.
  • Tim dengan poin tertinggi, didaulat sebagai “Warganet Budiman”.
  • Guru menyampaikan refleksi struktur teks ulasan terhadap etika bermedia sosial.

Tabel 1 Refleksi Struktur Teks Ulasan dengan Etika Bermedia Sosial

No.Struktur Teks UlasanEtika Bermedia Sosial
1.Identitas karya Menunjukkan judul, penulis dan segala hal yang berkaitan proses terbit suatu karya.Mengenal merupakan sebuah tahapan pertama yang seharusnya dilakukan oleh pengguna media sosial (medsos) sebelum melakukan interaksi. Menghindari berita bohong berkeliaran.
2.Orientasi Menjabarkan prestasi dan pengaruh suatu karya.Besar manfaat dan pengaruh suatu akun di medsos dapat menggiring pemikiran sesama pengguna. Alangkah baiknya menggunakan medsos sebagai sarana hiburan dan berpengaruh positif.
3.Sinopsis Ringkasan yang menggambarkan keseluruhan isi karya secara ringkas.Mengenal secara mendalam dan menikmati karya, pemikiran, atau gagasan yang ditampilkan pada dunia maya.
4.Analisis dalam prosa berupa paparan tentang keberadaaan unsur unsur cerita, seperti tema, penokohan, dan alur.Memilah dan memilih tontonan di media sosial merupakan langkah bijak untuk kesehatan mental setiap penggunanya. Memilih yang baik untuk dipelajari, memilah tontonan negatif untuk dihindari (skip).
5.Evaluasi Paparan tentang kelebihan dan kekurangan suatu karya.Memberikan pujian, kritikan, dan saran dengan cara yang baik bukan sembarangan. Sehingga mencegah budaya hate speech (ujaran kasar).
6.RekomendasiApresiasi di medsos menjadi langkah paling sederhana namun dapat berdampak positif, dengan membagikan hal-hal baik yang kita lihat atau dengar ke sesama pengguna medsos lainnya.

Akhirnya, dari pembelajaran ini diharapkan peserta didik dapat memahami materi teks ulasan dengan baik dan merefleksikannya dalam bersosial di kehidupan virtual. Sehingga selain tuntas satu kompetensi dasar, ditanamkan pula karakter peduli, bertanggung jawab, dan berani pada diri setiap peserta didik. Harapannya inovasi pembelajaran SULAP ini dapat memberikan motivasi pada pendidik lainnya, bahwa sebuah pembelajaran yang menyenangkan tidak membutuhkan persiapan yang rumit. Dapat pula memanfaatkan hal yang paling dekat dengan peserta didik dan pendidik, salah satu contohnya adalah media sosial sebagaimana yang digunakan dalam inovasi pembelajaran SULAP.

Daftar Pustaka

Curran, L. (1994). Metode pembelajaran make a match. Jakarta: Pustaka Belajar.

Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business horizons, 53(1), 59-68.

Macfadyen, L., & Dawson, S. (2012). Numbers Are Not Enough. Why e-Learning Analytics Failed to Inform an Institutional Strategic Plan. Educational Technology & Society, 15(3), 149-163.

Raschke, C. A. (2002). The digital revolution and the coming of the postmodern university: Routledge.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.